*CERITA RAMADHAN DI BALIK JERUJI*

oleh -371 Dilihat
oleh

*CERITA RAMADHAN DI BALIK JERUJI*

 

*Bukittinggi-HUMAS LABUKTI*. Meski berada di bali jeruji besi, para penghuni Lapas Kelas IIA Bukittinggi tetap antusias menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1445 Hijriah. Kala sebagian besar umat Islam berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara untuk menjalankan ibadah puasa, para narapidana (napi) menjalaninya di balik penjara.

 

tembok kokoh dan jeruji besi seolah menjadi saksi kerinduan mereka menjalani Ramadhan bersama keluarga di luar sana. Lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bukittinggi berada di Jalan Raya Bukittinggi-Payakumbuh Km 8, tepatnya di Nagari Lambah Kecamatan Ampek Angkek.

 

Selama sore pada bulan Ramadhan, lapas tersebut memfasilitasi keluarga warga binaan pemasyarakatan (WBP) untuk mengunjungi dan mengantarkan takjil atau makanan untuk berbuka puasa dimulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. “Selama Ramadhan setiap hari memang keluarga dari warga binaan pemasyarakatan (WBP) diperbolehkan mengantarkan takjil untuk berbuka puasa,” ujar Kepala Lapas Kelas IIA Bukittinggi, Herdianto.

 

Ada sekitar 50 orang yang rutin mengantarkan makanan berbuka puasa atau takjil dalam beberapa hari pertama di bulan suci Ramadhan ini. Pengantaran takjil untuk WBP harus melalui alur dan prosedur yang telah ditentukan oleh pihak Lapas.

Baca Juga :  Pertemuan Rutin Dharma Wanita Lapas Muara Enim

 

Pertama, pengunjung dan pengantar makanan harus mengambil nomor antrean pada loket yang sudah disediakan. Kemudian, dilakukan pendataan KTP atau tanda pengenal yang sah serta ditanyai akan mengunjungi atau mengantarkan makanan untuk siapa.

 

Setelah itu, pengunjung dan makanan yang akan diantarkan harus diperiksa terlebih dahulu untuk menghindari penyelundupan barang-barang yang dilarang seperti sendok, dan barang lainnya untuk mengantisipasi tindak kekerasan di dalam Lapas. Khusus untuk makanan yang ditempatkan dalam kotak plastik, pihak lapas akan mengganti wadah tersebut dengan kantong plastik.

 

Jika sudah terkumpul, tepat pukul 17.30 WIB makanan-makanan itu akan diantarkan kepada pemiliknya masing-masing. Sedangkan untuk dapat memasuki kompleks lapas, terdapat tiga gerbang yang terbuat dari baja serta ada titik bagi pengunjung harus melewati mesin X-ray terlebih dahulu.

 

Selama bulan Ramadhan, selain bekerja bakti untuk membersihkan lingkungan, para WBP Lapas kelas IIA Bukittinggi yang beragama Islam banyak mengisi waktunya dengan beribadah. Selain ibadah sholat wajib lima waktu, Pesantren kilat yang diselenggarakan oleh pihak lapas bekerjasama dengan Da’i Mubalig Kota Bukittinggi serta Kementerian Agama Kota Bukittinggi pun mereka ikuti. mereka juga mengerjakan shalat sunah seperti dituntunkan Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga :  JALANI DESK EVALUASI SATKER PEMBANGUNAN ZI , TPI DUKUNG INOVASI RUTAN PADANG UNTUK JADI LEBIH BAIK

 

Seusai sholat, para WBP itu bertadarus Alquran dan membaca kitab-kitab islami lainnya. “Kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk kajian-kajian, sholat berjamaah, tadarus Alquran dan membaca kitab-kitab selepas sholat,” kata salah satu WBP, Adnan.

 

Karena itu, tidak mengherankan jika para WBP muslim di Lapas kelas IIA Bukittinggi dapat mengkhatamkan membaca Alquran tiga kali selama bulan Ramadhan. “Ada hikmah yang kami petik selama dibina di sini. Kalau di luar sana orang-orang khatam Alquran tidak jarang yang hanya sekali selama bulan Ramadhan, kami bisa sampai tiga kali khatam,” ujarnya.

 

Memasuki waktu berbuka, para narapidana kerap kali berbuka puasa bersama di masing-masing blok dengan makanan yang disediakan maupun yang diantarkan oleh keluarga. Saat berbuka inilah menjadi momen kebersamaan di antara mereka yang sudah menganggap satu dan lainnya seperti keluarga.

“Bahkan dengan teman-teman non-Muslim juga kami berbagi saat berbuka,” kata narapidana lainnya, Rahmat. Namun demikian, bagaimanapun Rahmat mengaku momen yang paling dirindukan adalah berkumpul bersama keluarga di bulan suci Ramadhan. “Biasanya kalau puasa begini istri saya selalu masak makanan favorit saya untuk sahur. Lalu sore hari saya dan anak saya jalan-jalan ke pasar dadakan untuk membeli takjil,” ujarnya.

Baca Juga :  Lapas Muara Enim Kemenkumham Sumsel ikuti Pembukaan Semarak HDKD ke-77 Tahun 2022 secara Virtual

 

Meski saat ini belum bisa bertemu keluarganya secara langsung, tapi kerinduan itu bisa diobati dengan masakan istrinya yang dikirim ke Lapas. Dia mengaku tidak bisa membayangkan, puncak keharuan yang dirasakannya pada saat malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Fitri.

 

Saat takbir dikumandangkan, dia sudah mencoba mengurai kisah indah bersama keluarga di saat hari raya. Tapi, Rahmat dan kawan-kawan WBP lainnya sadar dan harus bersabar menjalani masa hukuman akibat perbuatannya di masa lalu. “Kalau sudah malam takbir itu, mau menangis, sedih, senang, campur aduk,” katanya.

 

Oleh karena itu, ia berharap, Ramadhan di balik jeruji besi bisa melatih kesabaran dan mengubah diri menjadi lebih baik. Pasalnya, tak hanya menahan hawa nafsu, lapar, dan haus, namun menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan tentunya menjadi tujuannya. Rahmat berharap pada Idul Fitri 1445 hijriah nanti, ia dan teman-temannya bisa mendapatkan remisi atau pengurangan masa tahanan dari pemerintah agar bisa segera berkumpul dengan keluarga. ALE

No More Posts Available.

No more pages to load.